Labilral

Akhir-akhir ini aku sering bosan menonton siaran televisi. Program acaranya benar-benar tidak karuan. Bukan aku merasa pandai, tapi sebagian kuli di media elektronik itu seperti kurang cerdas. Malah, kalau lebih gamblang lagi, mereka bodoh-bodoh. Coba bayangkan, program acaranya saja kebanyakan membodohkan. Berarti, yang buat pasti bodoh. Kalau mereka cerdas, pasti acaranya mencerdaskan. Waktu itu pagi-pagi, […]

Read more "Labilral"

Historia, Quo Vadis?

rawagede6_1_0

 

Seorang Kawan saya pernah menceritakan sebuah kisah yang menarik tentang kehidupannya yang ia bangun di negeri Kincir Angin Belanda bersama suaminya tercinta yang berkebangsaan Belanda. Walaupun ia tetap menjadi WNI, namun anaknya Ijan yang berumur dua belas tahun menjadi warga negara Belanda. Ketika kami bertemu di sebuah restoran di Yogyakarta saat itu, kawan saya menceritakan tentang sekolah anaknya. Ternyata si Ijan yang berambut kemerahan berwajah londo mengikuti bentuk wajah ayahnya, ia sangat menggemari pelajaran sejarah di sekolahnya. Ia dengan lancar mampu menceritakan kepada Ibunya sejarah kerajaan Belanda, sejarah Belanda saat menduduki Amerika sebelum revolusi Amerika terjadi, ketika Belanda diserbu oleh pasukan Napoleon Bonaparte, juga ketika diduduki oleh tentara Nazi. Namun satu hal yang membuat kawan saya bingung, ketika Ijan bercerita tentang Belanda yang pernah “menguasai” Indonesia. Kenapa harus dengan kata “menguasai”, tidak dengan kata “menjajah”. Karena kata menguasai berbeda makna dengan kata menjajah menurut KBBI. Apakah ini hanya sekadar eufimisme, atau memang sebuah fenomena sejarah kelam yang sengaja dipendam? Beruntung kawan saya serta suaminya merupakan orang tua yang berpikiran terbuka (open minded) hingga ia mampu menceritakan sejarah yang sebenarnya kepada si Ijan.

Cerita di atas menyangkut kawan saya dengan anaknya bukan merupakan sebuah cerita yang aneh sebenarnya di tengah jaman yang terus bergerak secara dinamis ini. Sebenarnya cerita tersebut sudah lama juga saya ketahui dari seorang teman yang pernah kuliah di sana selama beberapa tahun, ia juga menceritakan hal yang sama. Mengapa negara model Belanda yang begitu mengagung-agungkan kebebasan berekspresi dan berpendapat, serta humanis seperti negara barat pada umumnya sengaja memendam realita sejarah yang sebenarnya terjadi kepada generasi mudanya. Apakah ada perasaan tidak enak hati, malu mengakui kebejatan kerajaan Belanda masa silam, atau sebagai bentuk proteksi moral kepada warganya? Saya lebih condong yang kedua.

Yang jelas, sejak rakyat Indonesia mengangkat kembali kasus pembantaian Rawagede dan pembantaian di Makassar oleh Westerling ke pengadilan Belanda, semakin banyak generasi muda Belanda yang ingin mengetahui lebih jauh apa yang telah bangsa mereka lakukan pada masa “menguasai” Indonesia dulu. Beberapa institusi penelitian di Belanda seperti Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), Dutch Institute for Military History (NIMH) dan Institute for War, Holocaust and Genocide Studies (NIOD) mengajukan proposal untuk melakukan penyelidikan ulang episode ini. Mereka sangat mempunyai kepentingan untuk merekonstruksi ulang sejarah bangsanya yang yang selama ini dipendam oleh pihak Kerajaan Belanda.

Namun ternyata tidak hanya Belanda saja yang melakukan pemendaman realita sejarah bangsanya terhadap generasi mudanya. Seperti diketahui, Perancis pun melakukan hal serupa seperti Belanda untuk menutup aib masa lalunya yang keji ketika menduduki Aljazair dan Marokko pada tahun 1912 hingga 1956.

Apa yang dilakukan Spanyol dan Portugal lebih menyakitkan lagi, mereka sengaja memutar balikkan fakta sejarah kepada generasi mudanya bahwa pada masa abad ke 8 hingga abad ke 15 bangsa Arab pernah menjajah semenanjung Iberia dan mengubah nama negeri tersebut menjadi negeri Andalusia. Hanya sedikit generasi muda Spanyol dan Portugal yang sadar bahwa negara mereka dulu pernah menjadi pusat pancaran sinar ilmu pengetahuan di Barat ketika pemerintahan Islam berkuasa di sana. Membuat pernyataan bahwa Islam Arab pernah menjajah semenanjung Iberia pada masa lalu merupakan pernyataan yang sangat keliru dan mengandung unsur fitnah yang keji, karena sejarah mencatat bahwa Islam membebaskan penduduk semenanjung Iberia dari penguasa kerajaan Visigoth yang lalim, yang membuat penduduknya pada masa itu hidup dalam kesengsaraan. Bahkan menurut Philip K. Hitty dalam bukunya History of Arabs, penduduk Spanyol kala itu sengaja mengundang tentara Islam saat itu untuk menghancurkan kerajaan Visigoth.

Sejarah memang tidak pernah menipu, namun buku-buku sejarah melalui tangan penguasalah yang banyak menipu rakyatnya. Semoga pemerintah Indonesia tidak pernah memendam realita sejarah yang kelam ketika Indonesia menjajah Timor-Timur dan melakukan banyak pembantaian di sana pada masa orde baru berkuasa.

 

Febri Priyoyudanto

Selangor, Gombak. 5 Januari 2013.

 

 

Read more "Historia, Quo Vadis?"

Kredo Skolastik

ibn_khaldun_

Umat Islam pernah tercatat dalam tinta emas sejarah dunia sebagai pionir pengembang ilmu pengetahuan. Ketika Barat masih tenggelam dalam masa kegelapan (dark age), umat Islam melalui para ulamanya dengan karya dan ide-ide yang cemerlang telah menyinari dunia dengan ilmu pengetahuan baik di Timur (yang berpusat di Baghdad, masa pemerintahan Dinasti Abbasiah) dan juga di Barat (yang berpusat di Andalusia, atau Spanyol-Portugal masa pemerintahan Dinasti Umayyah II).

Hal ini begitu diakui oleh para ilmuwan Barat sekarang, bahwa ilmu pengetahuan tidak akan berkembangan dengan cemerlang seperti sekarang tanpa jasa-jasa para ulama Islam. Para ulama Islam masa silam ibarat kunci pembuka pintu ilmu pengetahuan yang saat itu masih tampak diselimuti kabut tebal. Berbagai macam ilmu pengetahuan dan universitas pertama di dunia lahir dari bumi Islam. Sejarah mencatat bahwa universitas pertama di dunia bernama Universitas Islam Al-Qarawiyyin di Fes, Maroko yang didirikan pada tahun 859 M, dan tercatat dalam Guinnes Book of World Record pada tahun 1998 sebagai universitas pertama di dunia yang menawarkan gelar kesarjanaan. Tidak hanya Al-Qarawiyyin, pemerintahan Islam saat itu juga membangun banyak universitas di tempat lain di antaranya Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir yang didirikan pada tahun 970 M, Universitas Sankore di Timbuktu, Mali yang dibangun pada tahun 989 M, Madrasah Nizamiyah di Baghdad yang didirikan oleh perdana menteri Dinasti Turki Seljuk Nizamul Mulk yang saat itu memegang peranan besar dalam pemerintahan Abbasiah di Baghdad, madrasah ini diresmikan pada tahun 1067 M. Di Andalusia, terdapat sebuah universitas bernama Universitas Cordova yang menurut Philip K Hitty merupakan sebuah universitas yang didirikan sebelum Universitas Al-Azhar dan Nizamiyah berdiri. Masih menurut Hitty, pada masa itu Andalusia begitu terkenal di Barat karena memancarkan sinar ilmu pengetahuan di Barat, bahkan Raja Inggris saat itu pernah berkirim surat pada Khalifah Umayah saat itu agar bisa menitipkan anaknya untuk belajar di Universitas Cordova.

Dengan begitu banyaknya instansi pendidikan saat itu, universitas-universitas tersebut begitu banyak melahirkan sarjana-sarja muslim yang handal, tidak hanya mumpuni dalam hal ilmu pengetahuan umum, namun juga pengetahuan agama. Kedua ilmu tersebut menjadi inheren dan tidak dapat terpisahkan. Mereka terkenal sebagai ulama yang polymath. Bandingkan dengan ilmuwan-ilmuwan masa kini yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia, akibat paham sekularisme yang dilahirkan dari pemikiran filosof barat yang mulai lahir dan berkembang pada masa renaissance.

Umat Islam pada masa itu begitu banyak melahirkan para ulama terkenal yang hingga sekarang karya-karyanya masih menjadi bahan rujukan ilmuwan modern, sebut saja Ibnu Sina atau di Barat dikenal dengan nama Avicenna (Ilmuwan kedokteran dan filsafat), Ibn Rusyd yang di barat dikenal dengan nama Averrous, ia begitu mempengaruhi pemikiran filosof barat seperti Descartes. Ibn Khaldun yang dijuluki “Bapak Ilmu Sosial Modern” karena karya-karyanya yang sangat fenomenal. Masih banyak lagi para ilmuwan lainnya yang lahir dari rahim masa Islam dulu. Tercatat dalam sejarah bahwa para ulama Islam dahulu, khususnya di Andalusia mampu melahirkan karya ilmiah sebanyak kurang lebih 20.000 naskah ilmiah dalam setahun, perpustakaannya menyimpan lebih dari 200.000 naskah ilmu pengetahuan. Bandingkan dengan negeri Barat yang pada abad ke 15 baru mendirikan sebuah universitas bernama Universite de Paris di Sorbonne, Perancis sebagai akibat dari banyaknya orang barat yang belajar di Universitas Cordova, dan mereka begitu banyak menerjemahkan karya-karya dari para ulama Muslim ke dalam bahasa mereka. Perpustakaan mereka hanya menyimpan 400 naskah karya ilmiah. Bahkan jika mau dibandingkan lagi, negara Spanyol modern sekarang belum mampu menandingi masa Andalusia dahulu, dalam setahun para ilmuwan mereka sekarang hanya mampu menghasilkan 14.000 jurnal ilmiah.

Keadaan sekarang menjadi terbalik, umat Islam menjadi umat yang terbelakang dan tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Umat Islam menjadi tergopoh-gopoh mengikuti perkembangan zaman yang serba modern yang dipimpin oleh peradaban Barat. Apa yang salah, dan di mana letak salahnya, berbagai macam pertanyaan menyumbat para pemikir muslim untuk memecahkannya. Alih-alih menjawab berbagai macam pertanyaan yang akan melahirkan rentetan jawaban yang panjang lebar, mungkin ada baiknya kita menjabarkan rahasia kesuksesan ulama Islam masa silam yang secara tidak langsung akan menjawab pertanyaan-pertanyaan konstruktif yang terus mengganggu pikiran. Berikut penjabarannya:

  • Dua Ilmu yang Inheren: Ilmu agama dan ilmu dunia ibarat dua sisi yang tidak dapat terpisahkan atau inheren. Keduanya tidak dapat terceraikan. Karena Al-Qur’an sebagai kalamullah bukan hanya menuangkan ayat-ayat tentang urusan keagamaan saja, namun juga memendam begitu banyak rahasia ilmu pengetahuan yang masih harus digali. Begitu banyak ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an. Oleh karena itu, para ulama Islam masa silam tidak pernah memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia, hingga begitu banyak para ulama yang terkenal sebagai polymath, yaitu menguasai banyak cabang ilmu. Sepeti halnya Ibn Sina, ia tidak hanya sebagai ilmuwan yang menggeluti tentang kedokteran, namun juga dikenal sebagai filosof dan paham ilmu agama dengan cukup mendalam. Bandingkan dengan ilmuwan jaman sekarang yang mensekat-sekat ilmu pengetahuan dan ilmu agama secara dikotomis.
  • Cinta Ilmu: Ulama pada masa lalu begitu sangat mencintai ilmu. Mereka menganggap bahwa menuntut ilmu adalah ibadah kepada Allah. Mereka begitu mengamalkan ajaran Islam dan mempercayai firman Allah, yaitu Allah akan menaikkan derajat orang-orang yang berilmu. Ditambah lagi dengan hadist Nabi yang menyatakan bahwa orang yang sedang menuntut ilmu sama dengan orang sedang berjihad di jalan Allah. Hidup mereka pun hanya bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadist Nabi, dimana tidak akan ditemukan kesesatan jika mengikuti keduanya. Mari bandingkan dengan umat sekarang yang begitu jauh meninggalkan dua warisan itu, dan lebih berkiblat ke Barat, walaupun itu membawa mereka kepada kesesatan dan berorientasi kepada materialisme.
  • Dukungan dari Penguasa: Ilmu pengetahuan pada masa pemerintahan Islam dahulu tidak akan mengalami perkembangan yang signifikan tanpa adanya dukungan yang besar dari para penguasa. Pada saat itu, penguasa begitu mencintai ilmu, bahkan madrasah Nizamiyah di Baghdad dapat berdiri tegak atas gagasan tangan kanan penguasa, yaitu Nizamul Mulk. Begitu juga perpustakaan megah Bait Al Hikmah yang dibangun pada masa Harun Al-Rasid penguasa Baghdad, dan disempurnakan oleh putranya Al-Makmun, Di perpustakaan itu berkumpul para ilmuwan muslim yang mendiskusikan beragam ilmu pengetahuan, walaupun pada akhirnya nasib bait al hikmah hancur berkeping-keping karena serangan Bangsa Mongol pimpinan Hulagu Khan pada tahun 1258. Di Cordova, perpustakaan mencapai 70 buah pada masa pemerintahan Al-Hakam dan Al-Mustanshir. Bahkan salah satu murid Universitas Cordova yang bernama Gerbert d’Aurillac (945-1003) menjadi Paus Sylvester III.
  • Jaminan Hukum: Adanya sebuah jaminan hukum yang berlandaskan syariat Islam dari penguasa membuat keadaan lebih aman dan kondusif, hingga membuat perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesat. Para ilmuwan dapat berkonsentrasi dalam menciptakan karya-karyanya, dan karya-karyanya pun mendapatkan perlindungan hukum, jauh sebelum bangsa barat memberlakukan hukum hak kekayaan intelektual.
  • Ketaqwaan: Ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci para ulama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, karena dalam dimensi taqwa tersebut terdapat pakaian kebesaran para ulama. Seperti salah satu pesan Imam Syafi’i, “Takwa adalah pakaian kebesaran dan hiasan akhlak Muslim sebenarnya. Ia ibarat pokok zaitun, minyaknya membawa berkah, ia juga memberi kejayaan dan kemenangan.”
  • Pemaknaan Kata Ulama: Seperti diketahui, pada masa dahulu semua ilmuwan disebut dengan istilah ulama, dikarenakan mereka tidak mensekat-sekat antara ilmu agama ataupun ilmu dunia, hingga mereka menguasai dua ilmu tersebut tanpa terpisah. Kita bandingkan dengan istilah ulama masa sekarang yang hanya diperuntukkan bagi orang yang hanya mendalami ilmu agama saja.
  • Menghargai Waktu: Para ulama terdahulu sangat menghargai waktu. Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Mereka mengisi waktu dengan mengkaji Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Imam Ghazali hanya menyisihkan waktu tidurnya dalam sehari sebanyak 4 jam, ia meniru cara Imam Syafi’i mengatur waktu, dan Imam Syafi’i terinspirasi dari cara hidup Nabi yang tidur lebih awal agar dapat bangun di sepertiga malam. Bahkan Imam Ghazali mampu membuat tulisan sebanyak lima belas lembar sehari. Ibn Rusyd dan Ibn Sina menggunakan waktu 18 jam sehari untuk mengkaji ilmu pengetahuan di luar waktu sholat, makan, dan lain-lain. Ibn Khaldun, masih mampu menciptakan karya yang fenomenal di tengah musibah besar yang menimpa keluarganya, anak dan istrinya meninggal karena tenggelam di laut saat pergi dari Andalusia menyeberang ke Mesir.
  • Berbicara dengan Karya: Para ulama terdahulu menuangkan ide dan gagasan mereka melalui sebuah karya yang ilmiah, bukan dengan cara menyerang melalui perkataan keji yang provokatif. Sejarah mencatat tentang sebuah “perang karya” antara Imam Ghazali dan Ibn Rusyd. Imam Ghazali menuduh para filosof Islam saat itu terlalu banyak terpengaruh dalam filsafat skolastik Yunani, namun Imam Ghazali tidak menyerang Ibn Rusyd dengan cercaan keji disertai tuduhan yang tidak berdasar, tapi ia menggunakan karyanya yang berjudul Tahafud Al-falasifa (Inkoherensi Filosof), lalu Ibn Rusyd membalasnya dengan buku yang berjudul Tahafud Tahafudi Al-falasifa (Inkoherensi dari Inkoherensi Filosof). Hal seperti ini benar-benar mencerminkan kata pepatah, “orang yang berilmu lebih sedikit bicara daripada orang yang tidak berilmu”. Mereka juga menggunakan filosofi padi, semakin tinggi semakin merunduk, bukan semakin merasa jumawa. Bahkan semakin mereka selami sebuah ilmu pengetahuan, ternyata semakin banyak yang mereka tidak tahu. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi, sesungguhnya Ilmu Allah itu seluas samudra, dan kita hanya diberi setetes saja, masih patutkah kita bersombong. Begitu juga dengan ayat Allah, “Wamaa utiitum minal ilmi illaa qaliil” (Sesungguhnya aku hanya memberikanmu ilmu itu sedikit).

Febri Priyoyudanto

Selangor, Gombak. 5 Januari 2013.

Referensi:

Hitti, K. Phillip. History of the Arabs, Revised: 10th Edition, Palgrave Macmillan, 2002.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.

Zaidan, Jurji. History of Islamic Civilization. New Delhi: Kitab Bhavan, 1978.

Read more "Kredo Skolastik"

Realita Manzikert 1070

Pertempuran Manzikert adalah sebuah pertempuran besar yang terjadi pada 483 H atau bertepatan dengan bulan Agustus 1070 (ada juga yang mengatakan tahun 1071) antara Kesultanan Turki Seljuk dan Kekaisaran Romawi Timur Konstantinopel. Manzikert itu sendiri mengacu kepada sebuah tempat bernama Manzikert, Armenia. Pertempuran itu sendiri disebabkan oleh takluknya beberapa wilayah yang ada di dalam kekuasaan […]

Read more "Realita Manzikert 1070"

Abyssus Konstantinopel 1453

fetih1453 muhammad-al-fatih

 

Konstantinopel adalah sebuah wilayah yang terletak di sebelah barat selat Bosphorus dan memisahkan antara benua Asia dan Eropa. Kekaisaran Konstantinopel juga dikenal dengan Byzantium, karena terletak di wilayah Byzantium yang dibangun atas prakarsa seorang pahlawan Yunani Kuno bernama Byzas sekitar abad 14 SM. Pada tahun 324 Kaisar Konstantin membangun kekaisaran Romawi Timur di kota itu untuk lebih mempermudah pengontrolan wilayah Romawi yang luas yang membentang dari Timur ke Barat. Sejak saat itu Byzantium juga dikenal dengan nama Konstantinopel.

Tembok benteng konstantinopel adalah yang terkuat pada masanya. Tidak seperti benteng-benteng kerajaan yang lain, tembok konstantinopel mengelilingi kota sepanjang 14 mil dengan ketebalan tembok tiga lapis dan memiliki ketinggian 15 meter. Pada pemisah tembok dalam dan tembok luar juga terdapat parit sedalam 10 M. Begitu juga di tembok paling depan, sehingga sudah membuat musuh mati lebih dahulu untuk mencapai ke sisi tembok.

Di dalam kota Konstantinopel juga terdapat sebuah gereja megah yang bernama Hagia Shopia. Gereja yang dibangun pada masa Kaisar Justinian pada tahun 537 M ini memiliki bangunan dan kubah yang sangat tinggi. Kubah Hagia Shopia baru bisa dikalahkan setelah Kesultanan Turki Utsmani membangun masjid Sultan Ahmed pada abad 16. Di dalam tembok itu juga konon tersimpan kepala Yohannes Sang Pembaptis dan juga mahkota duri yang katanya dikenakan Yesus saat disalib.

Pada awal bulan april 1453 M, Kesultanan Turki Utsmani dibawah kepemimpinan Sultan Mehmed II menyerang Kekaisaran Konstantinopel. Berikut akan diuraikan fakta-fakta menarik tentang pertempuran tersebut.

  •  Hadist Nabi: Sesuai dengan Hadist Nabi, “Konstantinopel pasti akan takluk, pemimpinnya saat itu adalah sebaik-baiknya pemimpin, dan pasukannya adalah sebaik-baiknya pasukan.” Sesuai dengan hadist tersebut, begitu banyak pemimpin muslim yang ingin membuktikan kebenaran hadist tersebut.
  • The Unbroken Wall: Tembok lapis tiga konstantinopel belum pernah runtuh sejak dibangun pada tahun 324 M. Tercatat 23 kali serangan pernah dihadapi Konstantinopel, mulai dari serangan tentara Persia, tentara Salib, dan juga tentara Muslim.
  • Serangan Tentara Muslim: Sebelum Sultan Mehmed II Bin Murad II dari Turki Utsmani menyerang Konstantinopel, tercatat dalam sejarah, Konstantinopel juga mendapat serangan dari tentara muslim sebelumnya yaitu dari Bani Umayah masa Muawiyah Bin Abi Sufyan dan Sulaiman bin Abdul Malik, Bani Abbasiyah masa Harun Al-Rasyid, Turki Seljuk masa Alp Arslan, serta Sultan Murad I, Sultan Beyazid I dan Sultan Murad II dari Turki Utsmani. Sejak serangan tentara Muslim pertama di bawah pimpinan Muawiyah, Konstantinopel segera memasang Rantai Besi Raksasa pada bagian tembok yang paling lemah di sisi yang langsung berbatasan dengan laut Marmara dan Teluk Tanduk Emas. Dengan adanya rantai besi raksasa itu, kapal-kapal tidak memungkinkan untuk bisa melintas dan menyerang tembok terlemah yang hanya terdiri dari satu lapis.
  • Kepribadian Sultan Mehmed II: Sultan Mehmed II tercatat dalam tinta emas sejarah Islam sebagai seorang Sultan yang soleh. Ia menjabat sebagai sultan pada umur 21 tahun. Ia orang yang cerdas dan tidak pernah meninggalkan shalat wajib dan rawatib, bahkan tahajudnya sejak ia mencapai akil baligh. Ditambah lagi ia tidak pernah menjadi masbuk dalam shalat jama’ahnya. Ia ingin merealisasikan hadist Nabi bahwa pemimpin yang menaklukkan konstantinopel adalah sebaik-baiknya pemimpin.
  • Isolasi: Sebelum melakukan perang dengan Konstantinopel, Sultan Mehmed II melakukan isolasi terhadap konstantinopel dengan membuat sebuah benteng baru yang megah di wilayah kekuasaan Konstantinopel. Benteng itu bernama Rumeli Hisari. Kaisar Konstantinopel tidak tinggal diam, ia mengecam Sultan Mehmed dan langsung meminta bantuan kepada saudara-saudara Kristennya di Barat yaitu Kerajaan Genoa, Kerajaan Venesia, dan Paus Roma Nicholas. Bahkan penguasa Aragon (Portugal) Raja Alfonso siap mengobarkan lagi perang salib melawan Turki Utsmani. Namun, ternyata itu semua hanya gertak sambal. Terlebih Kerajaan Venesia dan Genoa memiliki hubungan dagang yang terjalin cukup baik dengan Kesultnan Utsmani, mereka tidak ingin jalinan bisnisnya hancur hanya karena membantu Konstantinopel.
  • Unifikasi: Mendengar permohonan bantuan yang diminta Kaisar Konstantinopel kepada Paus Roma Nicholas, Paus mengajukan persyaratan kepada Kaisar berupa unifikasi, yaitu Gereja Kristen Orthodoks harus bersatu dengan Kristen Katolik Roma. Persyaratan yang sangat berat untuk Kaisar Constantine walaupun akhirnya ia harus menyetujui syarat tersebut dengan berat hati. Karena sejak terjadinya Skisma Timur-Barat (perpecahan besar dalam agama Kristen) pada abad ke 11, Kristen Orthodoks dan Kristen Katolik selalu bertentangan dan bermusuhan. Kristen Orthodoks menganggap orang-orang Kristen Katolik adalah orang-orang yang angkuh dan sesat, dan orang Katolik pun juga menyatakan hal sama terhadap Kristen Orthodoks. Buah dari proses unifikasi itu sendiri membuat para pendeta dan umat orthodoks murka. Mereka tidak lagi mau pergi ke gereja Hagia Shopia dan mereka juga menentang Kaisar. Bahkan mereka lebih suka melihat sorban putih orang Turki daripada melihat topi kardinal Paus Roma. Rakyat Konstantinopel belum lupa tentang peristiwa tahun 1204 ketika rombongan Kristen Barat yang tergabung dalam pasukan perang salib menjarah dan merampok harta rakyat Konstantinopel, hingga membuat wilayah itu porak-poranda. Setelah melakukan proses unifikasi, orang-orang Kristen Barat mengirim beberapa pasukan untuk membantu Konstantinopel, namun dengan setengah hati dan tidak maksimal.
  • Pasukan Yenisari Turki Usmani: Pasukan Yenisari Turki Usmani terbagi menjadi tiga jenis pasukan.
  • Divisi Sipahi Akinci: Pasukannon-reguler dan asli orang Turki (Infanteri dan Kavaleri)
  • Divisi Kapikulu Ocak:  Pasukan reguler (Infanteri, Kavaleri, dan Pasukan Laut)
  • Divisi Azap dan Bashi Bazouk: Satu-satunyaPasukan non-Yenisari yang direkrut secara sukarela.
  • Divisi Yenisari Khusus: Pasukan elit dan terbaik. Pasukan khusus ini juga digunakan untuk pengawal pribadi Sultan.

Pembentukan pasukan Yenisari sendiri tidak lepas dari kebijakan Dafsyariyah atau dalam istilah lain juga dikenal dengan Devsirme, yaitu sistem perekrutan kaum non-muslim yang menjadi tentara muslim. Kebijakan ini sudah dimulai sejak Sultan Murad I naik tahta. Walaupun pada akhirnya sebagian besar dari mereka memeluk Islam. Yenisari sendiri berasal dari kata Yeniceri yang berarti ‘baru memeluk Islam’.

Jumlah pasukan Sultan Mehmed II kala menyerang Konstantinopel berjumlah 250.000 prajurit dari berbagai macam divisi. Sedangkan pasukan Konstantinopel sendiri hanya berjumlah 10.100 pasukan, sudah termasuk 2000 pasukan utamanya, 700 pasukan khusus dan berpengalaman bantuan dari Genoa pimpinan Giovanni Giustianiani, dan 400 pasukan berbaju besi bantuan dari Venesia pimpinan Giacomo Coco. Ditambah dengan populasi penduduk Konstantinopel yang hanya mencapai 100.000 orang. Kaisar Konstantin menganggap bantuan dari saudara Kristen Baratnya itu tidak maksimal, karena mereka hanya membantu mengirimkan pasukan dalam jumlah yang sangat kecil. Namun begitu tentara Konstantinopel beserta sekutunya tetap berada di atas angin karena mereka berada di posisi dalam benteng dan di tanah yang lebih tinggi dari posisi pasukan Muslim.

  • Meriam Raksasa: Setelah mempelajari pertempuran-pertempuran di Konstantinopel sebelumnya, Sultan Mehmed II berpendapat bahwa tembok Konstantinopel tidak akan runtuh hanya dengan senjata biasa. Lalu ia memakai jasa seniman senjata berkebangsaan Hungaria yang bernama Orban. Ia membuatkan meriam raksasa untuk digunakan dalam pertempuran dengan ukuran meriam 8,2 meter, diameter lubang peluru 70 cm, dan berat peluru 700 Kg. Tak hanya itu, ia juga membuat meriam-meriam dengan ukuran yang lebih kecil dari ukuran meriam raksasa. Untuk menarik meriam raksasa ke Konstantinopel sepanjang 225 KM dibutuhkan 200 pekerja untuk meratakan jalan, 60 sapi dan 200 tentara untuk menariknya. Orban dibayar empat kali lipat oleh Sultan melebihi jumlah bayaran diminta. Segala keperluan hidupnya juga dipenuhi.
  • Kapal Laut: Jenis kapal laut yang digunakan tentara Turki adalah
  • Cektiri atau Cekdirme: Kapal laut tipe galley dan dayung.
  • Yelkenli: Kapal bertipe galleon dengan layar.

Setiap kapal dipimpin oleh Kapudan Bahriye Pasha (Captain of the Sea) yang merupakan lulusan akademi ketentaraan Yenisari.

  • Hari Penyerangan: Pada tanggal 23 Maret 1453, Sultan Mehmed II dan pasukannya bertolak dari Edirne ke Konstantinopel. Tanggal 6 April 1453 Sultan dan pasukannya tiba di Konstantinopel dan mulai melakukan serangan pertama. Pada 11 April iring-iringan senjata berat baru tiba di Konstantinopel. Sebelum penyerangan, Sultan Mehmed II memberikan tiga pilihan kepada Kaisar Constantine Palailogos. Pertama, masuk Islam maka serangan ke tembok Konstantinopel akan dibatalkan. Kedua, membayar jizyah dan tunduk pada syariat Islam. Ketiga, diperangi sampai Allah memenangkan kaum muslim. Namun kaisar tetap memilih opsi perang.
  • Kebuntuan: Pada tanggal 18 april pihak Turki Utsmani mengalami kebuntuan, karena semua penyerangan yang dilakukan baik dari darat maupun laut dapat dipatahkan oleh pasukan Konstantinopel. Namun masalah yang dihadapi oleh pihak Konstantinopel adalah kekurangan bahan makanan, karena Sultan Mehmed II sudah menghentikan semua pasokan makanan dan logistik yang bisa masuk ke Konstantinopel dari pihak luar termasuk dari saudara Kristennya di Barat. Kerajaan Genoa pun sudah enggan membantu Konstantinopel, karena telah diancam oleh Sultan. Walaupun begitu pihak Genoa pada akhirnya tetap mengirimkan bantuan ke Konstantinopel atas desakan Paus Nicholas yang harus membayar bantuan makanan dari Genoa dengan uangnya sendiri. Genoa memberikan bantuan makanan melalui tiga kapal besar. Tiga kapal besar Genoa pada awalnya mendapatkan serangan dari tentara Utsmani, namun tetap berhasil lolos karena kapal-kapal Genoa berukuran lebih besar dibandingkan kapal-kapal Turki Utsmani.
  • Pengkhianatan Wazir Halil Pasha: Kebuntuan yang diterima Turki Utsmani membuat Halil Pasha memberikan masukan kepada Sultan untuk menghentikan penyerangan karena telah terlalu banyak pasukan yang meninggal. Wazir Halil Pasha juga berpendapat lebih baik perang dihentikan dan kembali pulang ke Edirne. Halil Pasha adalah wazir yang telah disuap oleh pihak Konstantinopel untuk meminta Sultan Mehmed II menghentikan penyerangan, ia juga orang yang tidak setuju ketika Sultan pertama kali mengutarakan niatnya untuk menaklukkan Konstantinopel. Beruntung Wazir Zaganosh Pasha tidak menyetujui masukan Halil Pasha, dan memaksa Sultan untuk meneruskan peperangan.
  • Strategi Brilian Yang Lahir Dari Kefrustasian: Setelah dua minggu lebih pengepungan dan penyerangan yang dilakukan oleh pihak Turki Utsmani belum mampu meruntuhkan kokohnya tembok Konstantinopel, ditambah lagi senjata utama mereka meriam raksasa yang sudah tak mampu lagi berfungsi, dan 15.000 prajurit lebih telah gugur, Sultan merasa frustasi. Namun kefrustasian berhasil disembuhkan dengan datangnya dorongan motivasi berupa surat dari gurunya Syeikh Aaq Syamsudin. Dari perenungannya, Sultan lalu melahirkan sebuah strategi brilian dan luar biasa. Ia memerintahkan pasukannya memindahkan kapal-kapal besar Turki Utsmani melalui bukit Galata menuju tembok konstantinopel terlemah yang berbatasan dengan Teluk Tanduk Emas. Disebut tembok terlemah karena itu satu-satunya tembok Konstantinopel yang hanya memiliki satu lapis tembok, namun dilindungi oleh rantai-rantai besi yang dipasang sejak penyerangan pertama kaum muslim masa Dinasti Umayah, sehingga membuat kapal-kapal Turki Utsmani tidak bisa melintas ke arah tembok terlemah itu.

Baru pada tanggal 22 April 1453, pasukan Turki Utsmani berhasil menyeberangi 72 kapalnya melalui bukit Galata dalam waktu satu malam menuju tembok terlemah. Hingga pada akhirnya tembok terlemah bisa diserang. Melihat keadaan ini, Kaisar kembali meminta bantuan kepada kerajaan Genoa dan Venesia. Bantuan 4 kapal dari dua kerajaan itu baru masuk ke perairan Konstantinopel pada tanggal 28 April 1453. Namun sebelum empat kapal itu merapat, meriam-meriam Turki Utsmani telah membuat kapal-kapal itu rusak parah. Kapal-kapal Venesia karam, dan kapal Genoa kembali pulang. Mendengar berita itu, Kaisar Konstantinopel merasa geram dan menyuruh pasukannya melakukan pembunuhan terhadap 260 tawanan tentara Turki Utsmani dari atas benteng yang disaksikan dari jarak jauh oleh para tentara Turki Utsmani dan juga Sultan. Kaisar pun juga menangis karena tidak ada lagi bantuan yang datang dari saudara Kristennya di Barat. Ia menyadari bahwa persatuan dalam agamanya adalah persatuan semu.

  • Penambang: Sultan juga memerintahkan para penambang dari Serbia untuk menggali terowongan bawah tanah, agar para pasukan bisa masuk dari bawah tanah dan melakukan penyerangan. Namun strategi ini dapat terbaca oleh pihak Konstantinopel dan gagal.
  • Kendali Penyerangan: Setelah menguasai tembok terlemah di sisi teluk tanduk emas, Pasukan Turki Utsmani terus melakukan penyerangan tanpa henti, dan hanya beristirahat saat waktu shalat. Ia membagi pasukannya ke dalam beberapa bagian. Ketika satu pasukan sudah terlihat kelelahan, ia akan memerintahkan pasukan yang lainnya untuk melakukan penyerangan. Pada saat malam harinya, sebelum beristirahat para pasukan mengisi waktunya dengan shalat tahajud dan membaca Al-Quran.
  • Antara Bulan Sabit dan Hodegetria: Sedari awal pihak Turki Utsmani telah mewarisi sebuah keyakinan pada keturunannya bahwa penaklukan konstantinopel dilambangkan dengan bintang di tengah-tengah bulan sabit. Ini adalah mimpi yang mendatangi pendiri Kesultanan Turki Utsmani yaitu Ustman, dan diceritakan kepada anaknya Orhan bin Ustman, hingga kepada keturunannya sampai ke Sultan Mehmed II. Pada malam itu, bintang di tengah-tengah bulan sabit muncul. Hal ini dijadikan sebuah pertanda baik oleh Sultan Mehmed II bahwa tembok Konstantinopel sesaat lagi akan runtuh.

Sementara di pihak Kristen Konstantinopel, Kaisar memerintahkan para pendeta agar mengadakan suatu upacara persembahan kepada Bunda Maria. Karena penduduk Konstantinopel begitu percaya bahwa wilayah mereka dilindungi oleh Bunda Maria. Mereka mempercayai jimat Hodegetria, yaitu lukisan Bunda Maria dan anaknya Yesus diusung keliling kota untuk mendapatkan pertolongan dari langit dan mengusir musuh.

  • Serangan Pamungkas: Hari senin 28 Mei 1453 Sultan dan para pasukannya melakukan puasa sunnah, dan pada tanggal 29 Mei 1453 Sultan melakukan serangan pamungkas ke kubu Konstantinopel. Sultan membagi pasukannya dalam dua gelombang. Pasukan pertama yaitu pasukan non-reguler yang merupakan pasukan terbesar Turki Utsmani. Sedangkan pasukan kedua ialah pasukan regular yang lebih terlatih dan memiliki perlengkapan lebih baik. Pasukan non-reguler akan menyerang tembok Mesoteichion, yaitu antara gerbang St. Romanus dan gerbang Charisian. Untuk pasukan reguler akan menyerang Istana Blachernae serta gerbang Militer II di sebelah selatan tembok. Pasukan laut juga diperintahkan menyerang melalui laut Marmara dan teluk Tanduk Emas.

Penyerangan dilakukan secara bertahap, ketika satu pasukan telah kelelahan, pasukan lainnya siap menggantikan. Namun semua usaha itu belum mampu juga membobol tembok Konstantinopel, dan belum ada satu pun prajurit yang mampu merangsek masuk ke dalam tembok. Hanya tersisa satu pilihan untuk Sultan, yaitu pasukan khusus Yenisari yang hanya tersisa 7000 prajurit. Ini adalah harapan terakhir Sultan. Hingga akhirnya pasukan khusus Yenisari yang dipimpin oleh Hasan Ulubat berhasil merangsek masuk ke dalam tembok Konstantinopel dan mengibarkan bendera Turki Usmani di atas gerbang St. Romanus. Hanya dalam waktu 15 menit, 30.000 pasukan Turki Utsmani sudah berada di dalam benteng. Konstantinopel pun akhirnya runtuh dan kalah pada tanggal 29 Mei 1453 atau 20 Jumadil Ula 857 H saat waktu fajar, jimat Hedogetria sama sekali tidak bertuah. Nasib Sang Kaisar pun tidak jelas selepas kekalahan itu, apakah ia mati terbunuh atau melarikan diri. Yang pasti jasadnya tidak ditemukan.

  • Pesan Sang Sultan: Ketika Konstantinopel telah ditaklukkan, rakyat Konstantinopel banyak mengungsi di dalam gereja Hagia Shopia, namun Sultan menjamin tidak akan ada rakyat yang dibunuh, tidak akan dipaksa untuk masuk Islam, dan rumah-rumah tidak akan dijarah, serta gereja-gereja tidak akan dihancurkan. Hingga pada akhirnya rakyat berani keluar dari pengungsiannya. Banyak dari mereka yang masuk Islam secara suka rela karena perlakuan lembut Sultan dan pasukannya kepada mereka.
  • Nasib Hagia Sophia: Gereja megah Hagia Shopia dijadikan oleh Sultan Mehmed II sebagai masjid. Sultan dan pasukannya melakukan solat jumat di Konstantinopel pertama kali di Hagia Sophia.
  • 5700 Peluru dalam 52 Hari: Tercatat 5.700 peluru telah terlontar ke tembok Konstantinopel melalui mulut meriam Turki Ustmani dalam pertempuran selama 52 hari.
  • Constantine dan Helen: Konstantinopel dibangun oleh Kaisar Flavious Constantine pada 324 M dan runtuh pada masa Constantine Palailogos pada 1453 M. Nama ibu dari dua kaisar itu pun sama, yaitu Helen. Konstantinopel berakhir setelah 1.143 tahun, 10 bulan, dan 4 hari.
  • Islamobol dan Al-Fatih: Nama Konstantinopel diubah oleh Sultan Mehmed II menjadi Islamobol yang berarti ‘Kota Islam’, dan sekarang lebih terkenal dengan nama Istanbul. Sultan Mehmed II tercatat dalam tinta emas sejarah Islam sebagai Sultan Mehmed Al-Fatih, atau lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih yang berarti “Muhammad Sang Penakluk”, umurnya masih 22 tahun ketika itu. Ia dan pasukannya juga yang dimaksud dalam hadist Nabi, “sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya pasukan”.

 

Referensi:

Alatas, Alwi. Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel. Jakarta: Zikrul, 2005.

 

Ash-Shalabi, Ali Muhammad. As-Sulthan Muhammad Al-Fatih, Faatihul Qunstantiniyyah. Kairo: Darul Tauzi’ wa Nasyrul Islamiyyah, 2006.

 

Ash-Shalabi, Ali Muhammad. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah. Jakarta: Al-Kautsar, 2003.

 

Y Siauw, Felix. Muhammad Al-Fatih 1453. Jakarta: Khilafah Press, 2011.

 

 

Febri Priyoyudanto

Gombak, Selangor, 7 Desember 2012.

 

Read more "Abyssus Konstantinopel 1453"