Babi dan Kleptorasi Koruptor

koruptor

 

Apakah babi itu haram? Apakah dia hanya sebangsa hewan yang menjijikkan sehingga umat muslim untuk menyentuhnya saja merasa jijik dan kotor, apa lagi memakannya? Saya sama sekali tidak meragukan bahwa di dalam tubuh hewan lucu dan menggemaskan itu (kalau dalam bentuk boneka) terdapat berbagai macam sumber penyakit yang dikandungnya. Walaupun para penggemar dan pecinta daging babi itu tetap berkilah bahwa cacing pita yang terkadung di dalam daging babi disebabkan oleh pemeliharaan dan cara memberi makan yang kotor dan salah. Lalu mereka berlomba-lomba memelihara babi dengan cara yang bersih dan higienis, yang lantainya tidak lagi beralaskan tanah tapi bersemen, dan juga memberi makan mereka dengan pakanan berkualitas yang dianjurkan oleh para peneliti hewan. Hasilnya, tetap sama tanpa perubahan. Entah ada berbagai penyakit atau cacing jenis apa lagi yang bisa ditemukan di dalam kandungan daging hewan itu, cacing keriting, cacing gondrong, cacing rebounding, cacing mohawk, cacing conrow, kita tidak tahu.

Jelas-jelas Allah telah menegaskan dan melarangnya melalui firmannya dalam surat Al-Baqoroh ayat 173:

He hath only forbidden you dead meat, and blood, and the flesh of swine, and that on which any other name hath been invoked besides that of Allah. but if one is forced by necessity, without wilful disobedience, nor transgressing due limits,- then is He guiltless. for Allah is Oft-forgiving Most Merciful.

(Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.)

Lantas apa hubungannya dengan topik di atas, apakah koruptor itu semuanya penggemar dagi babi. Belum tentu juga, tapi tetap ada relevansinya.

Berbicara masalah korupsi di Indonesia seperti menghitung bintang di langit, tidak akan ada habisnya. Entah itu korupsi di tingkat birokrasi elit atau di tingkat sempit macam tingkat kelurahan sampai RT. Bahkan yang lebih parahnya lagi, kasus korupsi pengadaan Al-Qur’an di departemen agama yang menyeret banyak petingginya. KPK tak ubahnya seperti pembersih kali Ciliwung, hari ini diserok, esok hari malah tambah menggunung. Ini bentuk impotennya sebuah hukum, penyakit budaya yang sudah sulit sekali diobati, atau jangan-jangan ini adalah sebuah hobi untuk memperkaya diri.

Indonesia adalah Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Bahkan tidak sedikit pengamat Barat berpendapat melalui analisa dan data referensi yang terpercaya bahwa bangkitnya peradaban Islam diramalkan berasal dari bumi Nusantara ini. Percayakah kalian? Apa iya? Padahal pemberlakuan syariat Islam di Indonesia saja ditolak dengan keras oleh pemerintah dan anggota parlemennya sendiri. Loh, padahal sebagian besar dari mereka beragama Islam, atau mungkin kalau diberlakukan syariat Islam secara menyeluruh, mereka takut tidak bisa korupsi dan takut tangannya bisa hilang. Untuk membayangkannya saja mereka merasa ngeri, apa lagi memberlakukannya. Kalau menganut undang-undang korupsi sekarang, koruptor kan hanya pindah tidur saja (paling lama 3 tahun karena remisi) dari rumah mewah ke penjara KPK yang terbilang wah untuk ukuran tahanan. Diantar ke pengadilan saja naik mobil mewah. Bandingkan dengan pelaku kejahatan dari kalangan teri yang menginap di hotel prodeo Cipinang atau Salemba.

Apakah mereka para pelaku koruptor yang katanya dari orang-orang terhormat tidak sadar kalau korupsi itu sama dengan mencuri hak orang banyak, apakah mereka tidak sadar telah membunuh banyak orang lapar, apakah mereka tidak sadar banyak memperkosa hak-hak rakyat yang tertindas. Padahal mereka tahu kalau mencuri, membunuh, atau menindas itu adalah perbuatan yang dilarang agama, dan para pelaku korupsi di Indonesia 80% adalah muslim. Tapi mengapa begini jadinya, Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia malah menjadi pemegang rekor Negara terkorup peringkat kelima di dunia dan pertama di Asia-Pasifik (Sumber: Jakarta Globe dan ICW). Apakah mereka tidak paham bahwa uang yang mereka makan dari hasil korupsi atau terima suap adalah haram, dan Allah tidak akan menerima sesuatu apapun dari cara yang haram, termasuk pakaian yang dipakai untuk sholat jika dibeli dengan cara yang haram, maka sholatnya tidak diterima. Sadarkah mereka bahwa makan dari hasil korupsi sama haramnya dengan memakan daging babi. Padahal saya jamin 100%, mereka tidak akan menyentuh apa lagi memakan daging babi kalau tidak sengaja atau tidak tahu. Mungkin menurut mereka daging babi tidak haram, hanya saja menjijikkan. Padahal sadar atau tidak sadar, apa yang mereka makan dari hasil korupsi sama saja dengan memasukkan daging babi ke perut-perut rakus mereka.

Febri Priyoyudanto

Selangor PG 1.7, 24 Oktober 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s