Reaktualisasi Nigeria

mozaheb20130120185430447

 

Jika kita mendengar nama Nigeria, yang terlintas dalam benak banyak orang adalah bisnis narkotika dan biang kejahatan di berbagai Negara. Walaupun terkadang kita juga teringat akan pemain-pemain sepak bolanya yang hebat sebut saja Nwanko Kanu, Obafemi Martins, Jay-jay Okocha, atau Celestine Babayaro. Tapi itu hanya untuk sebagian kalangannya saja, namun yang lebih melekat untuk orang-orang Nigeria adalah kriminalitas.

Sebenarnya anggapan itu tidak salah, karena yang terjadi di beberapa Negara menunjukkan fakta demikian. Di Indonesia, komunitas kulit hitam Nigeria di kawasan Jakarta Pusat khususnya Tanah Abang dan sekitarnya telah terkenal dengan bisnis ilegal narkoba yang dikamuflase dengan eksport-import tekstil. Di Malaysia, banyak orang hitam terutama dari Nigeria yang melakukan bisnis yang sama di wilayah persekutuan Kuala Lumpur, terutama Bukit Bintang. Hal ini tidak berbeda jauh dengan kondisi di Thailand atau Filipina, mereka sudah dilabel sebagai pelaku kriminal.

Namun apa yang ingin saya jabarkan di sini adalah ketidakbenaran tentang pelabelan keseluruhan orang-orang Nigeria sebagai pelaku kriminalitas. Di Negara yang sebenarnya kaya dengan populasi yang mencapai 160 juta penduduk itu terdapat tiga suku besar yang menghuni kawasan di Nigeria. Suku Ibo menempati kawasan utara Nigeria yang 98,98% penduduknya adalah Kristen, sedangkan suku Hausa yang menduduki wilayah selatan dengan mayoritas penduduk adalah muslim yang berjumlah 95%. Di kawasan tengah terdapat suku Yoruba yang berbatasan dengan kawasan selatan. Penduduk suku Yoruba terdiri dari 65% muslim, dan sisanya pemeluk kristiani dan agama tradisional.

Dunia sempat dikejutkan dengan konflik berdarah antara dua suku besar di Nigeria, yaitu suku Hausa yang muslim dan Ibo yang Kristen. Ibu kota Abuja sering menjadi arena konflik bagi kedua suku besar itu. Konflik dua suku besar itu secara langsung menyeret konflik agama antara Islam dan Kristen karena latar belakang agama mereka. Media barat gencar sekali memberitakan bahwa kelompok Islam garis keras Boko Haram adalah penyebab utama konflik di Nigeria. Karena kelompok ini berusaha menerapkan syariat Islam di Negara dengan penduduk muslimnya 60% dari total populasi Nigeria (Media barat selalu mengatakan jumlah populasi Islam dan Kristen adalah 50:50. Data yang sebenarnya adalah penduduk muslim 60%, Kristen 38%, dan agama tradisional 2%). Namun apa yang sebenarnya terjadi di Nigeria tidaklah demikian. Saya melakukan cukup penelitian dengan mengorespondensi dan mewawancarai beberapa teman kuliah saya yang berasal dari Nigeria bahwa awal dari konflik adalah penduduk suku Ibo yang sering menebar teror dan ancaman kepada penduduk Hausa. Mereka tidak menginginkan penduduk Hausa bangkit dengan keislaman mereka, karena sejarah membuktikan bahwa dinasti Islam yang berpusat di Selatan pernah menguasai Nigeria selama delapan abad lamanya, dan sekarang diwarisi oleh suku Hausa. Dinasti Islam itu hancur setelah kedatangan Inggris yang menjajah Nigeria dan mengkotak-kotakan tidak hanya sesuai sukunya, namun juga agamanya.

Jadi semakin jelaslah titik terang konflik di Nigeria bahwa orang-orang Ibo tidak ingin suku Hausa bangkit menguasai Nigeria dengan warisan dinasti yang pernah berjaya di masa lampau. Dengan bantuan dari pihak barat, mereka mendapatkan persenjataan lengkap dan menguasai kekayaan alam Nigeria, walaupun jumlah mereka masih kalah banyak dibandingkan penganut muslim. Hal ini diperparah dengan media-media barat yang terus memperburuk citra muslim Nigeria sebagai penyebar teror melalui media-media besar mereka yang menguasai dunia, termasuk melalui film yang berjudul Tears of the Sun tahun 2003 yang dibintangi Bruce Willis dan Monica Belluci, film itu benar-benar mampu memutarbalikan fakta yang sebenarnya dan semakin mencuci otak pandangan masyarakat dunia bahwa orang-orang Ibo lah yang terzalimi karena aksi penindasan yang dilakukan orang Hausa.

Lalu siapakah orang-orang Nigeria yang sering membuat onar yang tidak hanya di negaranya sendiri, namun juga di Negara orang, pasti pembaca sudah tahu jawabannya dengan membaca penjabaran di atas. Karena ulah sebagian orang, seluruh rakyat Nigeria termasuk yang beragama muslim merasakan dampak dari pelabelan nama buruk mereka. Untuk pergi ke luar negeri dengan tujuan destinasi Negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Asia tidak terkecuali Indonesia, mereka sangat sulit sekali mendapatkan visa karena nama mereka yang sudah dicap buruk dengan berbagai macam kasus yang telah terjadi, sekalipun tujuan mereka untuk pendidikan ataupun menghadiri konferensi seminar. Sampai-sampai ada satu julukan untuk mereka “Si Hitam yang Membawa Malapetaka”.

Di Indonesia, kasus-kasus seperti perdagangan narkoba dan juga perdagangan wanita dilakukan oleh orang-orang Ibo, dengan nama-nama seperti Joel, Obi, atau Calestine yang ditemukan dari paspor mereka. Nama-nama diri seperti itu tidak mungkin digunakan oleh orang Hausa atau Yaruba yang menggunakan nama Alhaji, Abu Bakar, Abbas atau nama-nama Islam lainnya.

Referensi:

–          Majalah Amanah No. 47, Th. XVII, Februari 2004/Dzulhijjah 1424 H.

–          Juang, Richard M. (2008). Africa and the Americas: culture, politics, and history : a multidisciplinary encyclopedia, Volume 2

–          Lancia, Nicole. “Ethnic Politics in Nigeria: The Realities of Regionalism”. Georgetown University: Retrieved, 28 May 2011.

–          Peter, Rose . They And We, racial and Ethnic relations in the United States. Random House: New York, 2012.

Febri Priyoyudanto

Selangor PG 1.7. 24 Oktober 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s