Desoehartoisme

images2

Ketika embun reformasi tidak mampu menyentuh dedaunan kebutuhan rakyat yang kering, ketika mata air restorasi sistem politik belum mampu memenuhi dahaga rakyat, mereka mulai mengeluh bahkan berteriak, “Masih enakan jaman Soeharto, makan gampang, semuanya serba murah.” Ungkapan itu sering sekali kita dengar ketika bocah bernama reformasi ini mengalami cacat mental dan gangguan jiwa, dikarenakan para bidan dan wali reformasi telah mengkhianati perjuangan yang mengorbankan banyak darah dan jiwa anak bangsa. Apakah ini salah rakyat yang menginginkan zaman orde baru kembali lagi dalam wujud tokoh yang berbeda, atau ini adalah kesalahan para tokoh yang telah menelanjangi dan memperkosa cita-cita sebuah reformasi.

Soeharto (Alm), manusia Jawa dan muslim abangan yang menganggap dirinya adalah sebuah kaisar atau raja dalam dinasti Indonesia. Apakah dirinya layak disebut seorang presiden sebuah Negara republik, apakah dirinya pantas diberi gelar pahlawan nasional, atau ia lebih pantas disejajarkan dengan Hitler dan Stalin sebagai pemimpin pembunuh berdarah dingin?

Ketika ia meninggal dunia pada tanggal 27 Desember 2008, banyak para pengagumnya yang menangisi kepergiannya. Bahkan hingga sekarang, tidak sedikit para Soehartois yang menginginkan Indonesia kembali pada masa orde baru dalam wujud tokoh yang berbeda, karena mereka menganggap pada zaman itulah rakyat Indonesia merasakan menjadi rakyat sebuah Negara besar yang ditakuti lawan dan disegani kawan dalam bidang ekonomi dan militer. Bahkan pada masa Soeharto pulalah Indonesia menjadi Negara yang stabil dengan harga dolar tidak lebih dari Rp. 2000.

Soeharto memang bukan sembarang orang. Ia dibesarkan dalam dunia militer, dan mentalnya dibentuk dalam dunia pertempuran melawan penjajah. Pujian yang tinggi banyak datang dari tokoh internasional dan menjulukinya dengan “The Smiling General”. Dia pun juga diakui banyak tokoh reformasi sebagai orang hebat. Betapa tidak, selepas ia dipaksa turun oleh perlawanan para mahasiswa pada tahun 1998, dan dirinya sudah mempersilahkan untuk diperika perihal hasil kekayaannya, tidak satupun ada orang yang berani menyeret dirinya ke pengadilan. Bahkan Gus Dur pun mengakui bahwa Soeharto adalah seorang oportunis yang cerdas. Namun di balik itu semua, tentu kita juga tidak bisa memendam dosa-dosa besarnya pada bangsa ini. Peribahasa Jawa yang menyatakan mikul duwur mendem jero tidak berlaku di sini. Karena sebuah kesalahan tetap sebuah kesalahan yang tidak akan bisa bertransformasi menjadi sebuah kebenaran. Bukan bermaksud untuk membungkam para Soehartois yang terus menyuarakan suara sumbang terhadap fenomena cacatnya pemerintahan era reformasi, tapi mereka pun juga harus sadar dan mengetahui apa saja dosa-dosa tokoh idola mereka itu.

1. Pembantaian G 30S/PKI.

Jutaan orang meregang nyawa karena dicap komunis. Pernyataan tentang jumlah korban beragam, ada yang mengatakan 500 ribu,1 juta, 2 juta, bahkan Komandan Pangkostrad kala itu yang juga ayah dari Ani Bambang Yudhoyono, Kol. Sarwo Edhie Wibowo mengatakan korban mencapai tiga juta orang. Banyak orang berpendapat, PKI memang layak dibunuh, karena kalau tidak dibunuh mereka akan membunuh orang-orang yang berseberangan ideologi dengan mereka termasuk Islam. Ini dibuktikan sebelum meletusnya Gerakan 30 September, terjadi penyerangan terhadap sejumlah pesantren di Jawa Timur oleh anggota PKI, dan mereka juga menganiaya serta menebar ancaman kepada orang-orang kecil non-PKI (Baca: Tempo. Pengakuan Algojo 1965. Edisi 1-7 Oktober 2012). Tetapi masalahnya tidak semua anggota PKI bersikap demikian, dan juga tidak semua anggota PKI adalah para atheis yang menentang sistem kemapanan agama. Dosa besar Soeharto adalah menyalahgunakan Super Semar (yang hingga sekarang tidak ditemukan naskah aslinya) untuk melenyapkan PKI hingga ke akar-akarnya tanpa proses pengadilan. Terlebih lagi banyak orang non-komunis yang juga dihabisi karena bernaung dalam organisasi-organisasi underbow PKI seperti Lekra, Gerwani, dan Buruh Tani Indonesia (BTI). Soeharto bersama kekuatan militernya membunuh para PKI dengan meminjam tangan rakyat sipil (terutama orang Ansor-Banser NU di Jatim dan Jateng) yang telah memendam dendam pada PKI. Para anggota PKI itu memang telah tercuci otaknya dengan propaganda komunis, namun mereka masih bisa disadarkan dan tidak harus dilenyapkan tanpa proses peradilan.

2. Mengobral Kekayaan Alam Negara kepada Negara Kapitalis.

Soeharto adalah sosok yang sangat membenci Soekarno. Tidak satupun kebijakan politik Soekarno yang diteruskan oleh Soeharto. Soekarno mengharamkan kekayaan alam Negara dikuasai asing, namun Soeharto malah mengobralnya. Menurut majalah Tempo edisi 1-7 Oktober 2012, Swiss menjadi lapak jualan Soeharto pada tahun 1970. Ia bersama sejumlah kabinetnya menjajakan kekayaan alam Negara seperti sumber Minyak di Aceh pada Exxon, begitu juga nasib tambang emas di Papua yang dikuasai oleh Freeport dengan pembagian hasil 90%-10%. Tentunya 90% untuk Amerika (Baca buku: Presiden Eva Morales, Presiden Pemberani Pembela Rakyat. Budi Wuryanto. Yogyakarta: Delokomotif, 2007). Di dalam buku itu juga diungkapkan kekayaan Indonesia yang dikuasai pihak asing dari era Soeharto hingga SBY. (Lihat Film: The New Ruler of the World Karya John Pilgier. Bisa diunduh di Youtube)

3. Tragedi Malari

Darah mahasiswa tercecer dalam peristiwa Mala Petaka Lima Belas Januari (Malari). Langit Jakarta menghitam karena pembakaran mobil-mobil jepang yang dimotori oleh mahasiswa sebagai bentuk penolakan penanaman modal asing. Dalam peristiwa itu terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan pihak militer. Puluhan mahasiswa mati karena peluru tentara. (Baca: Hasibuan, Imran dkk. Hariman dan Malari, Gelombang Aksi Mahasiswa Menetang Modal Asing. Jakarta: Q-Communication. 2011.)

4. Peristiwa Tanjung Priuk

Banyak orang mengatakan ini merupakan pertarungan antara Suku Betawi VS Suku Jawa. Namun pendapat ini gugur, karena banyak juga orang Jawa yang menjadi korban dalam peristiwa yang terjadi di Tanjung Priuk pada 12 September 1984. Peristiwa yang berawal dari oknum babinsa yang menyiram spanduk dengan air got di depan musholla Assa’adah Koja Tanjung Priuk, karena spanduk tersebut bertentangan dengan asas tunggal Pancasila yang dijadikan alat propaganda Soeharto untuk menikam musuh-musuh orde baru. Peristiwa itu menjadi ajang pembantaian umat muslim Koja Tanjung Priuk Jakarta Utara oleh pihak militer. Korban meninggal mencapai kurang lebih 50 orang. Disebut perang Betawi VS Jawa karena kebanyakan warga Koja adalah berdarah Betawi, dan bukan rahasia lagi kalau orang Jawa memang paling banyak menyesaki pasukan militer dari zaman KNIL (TNI-nya milik Belanda) hingga TNI sekarang. Namun pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Karena ada beberapa korban yang meninggal berasal dari orang Jawa. (Baca: Tanjung Priok Berdarah, Tanggungjawab Siapa: Kumpulan Fakta dan Data, Yogyakarta: Gema Insani Press.)

5. Peristiwa Talangsari

Pembantaian terhadap puluhan orang oleh pihak militer di dusun Talangsari III, Desa Rajabasa Lama, Lampung Timur pada tahun 1989. Seorang tokoh masyarakat bernama Warsidi yang diduga mempunyai anggota yang merupakan alumnus gerakan NII Kartosuwiryo ingin kembali meneruskan cita-cita imamnya itu. Tapi ternyata tuduhan itu tidak terbukti. Warsidi dan puluhan masyarakat lainnya malah tewas karena beredel timah panas militer yang dipimpin oleh A.M Hendro Priyono. Menurut banyak pengamat, ini merupakan bentuk paranoid Soeharto pada Islam. (Baca Buku: Fadilasari. Talangsari 1989 Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung. Bandar Lampung: Lembaga Studi Press dan Pembangunan, 2007). (Baca Juga: Widjiono Wasis. Geger Talangsari. Jakarta: Balai Pustaka, 2001)

6. Tebar Ancaman di Kedung Ombo

Ini merupakan sebuah sejarah teror yang disponsori oleh orde baru, dan ini juga merupakan sebuah tragedi dehumanisasi. Pada tahun 1989, pemerintah berencana membangun waduk raksasa seluas 6, 756 Hektar di Jawa Tengah yang meliputi Sragen, Boyolali, dan Grobogan. Dana pembangunan waduk ini berasal dari pinjaman Bank Dunia. Menurut rancangan Bank Dunia, penduduk akan dikenakan uang ganti rugi sebesar Rp. 10.000 permeter persegi. Namun Mendagri saat itu Supardjo Rustam mengatakan ganti rugi hanya Rp. 3000 per meter persegi. Pada kenyataan di lapangan, penduduk hanya menerima ganti rugi Rp. 250 per meter persegi. Penduduk masih ngotot untuk bertahan, karena ini merupakan tanah warisan dari leluhur mereka. Namun teror dan ancaman terus digencarkan oleh pemerintah orde baru. Bahkan lebih parah lagi, mereka yang terus ngotot bertahan akan dicap PKI. Akibatnya ratusan penduduk kehilangan tempat tinggal. (Baca: Abdul Hakim G. Nusantara dan Indonesia Budiman Tanuredjo. Dua Kado Hakim Agung Buat Kedung Ombo: Tinjauan Putusan-Putusan Mahkamah Agung Tentang Kasus Kedung Ombo. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, 1997)

7. Invasi Timor – Timur dan Tragedi Santa Cruz

Dalam pembukaan undang-undang 1945 termaktub dengan jelas bahwa “Maka Penjajahan di dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Pemerintahan orde baru telah mengkhianati UUD 1945 karena telah menginvasi Timor-Timur pada 7 Desember 1975. 20000 ribu personel dikerahkan dan membantai puluhan ribu penduduk. Akhirnya Timor-Timur dijadikan propinsi ke 27 Indonesia saat itu. Sebenarnya, invasi ini atas suruhan diam-diam pihak AS, karena khawatir Timtim menjadi anak haram komunis karena bekas pengaruh Portugis yang saat itu di sana masih dikuasai komunis sebelum terjadinya revolusi. Selama pendudukan Indonesia di Timtim, menurut laporan PBB 200.000 ribu penduduk mati karena kelaparan. Kekayaan alam berupa kopi dan kayu cendana juga terus diangkut ke Jawa. Pada 12 November 1991 meletus sebuah peristiwa yang dinamakan Tragedi Santa Cruz. Para mahasiswa di Dili melakuan aksi protes karena salah satu rekan mereka Sebastian Gomes ditembak mati sebulan sebelumnya. Demonstrasi itu terjadi di pemakaman Santa Cruz. Pada peristiwa itu terbunuh 271 orang, dan 280 orang dinyatakan hilang. Namun di balik pendudukan Indonesia di Timtim, ternyata rakyat Timtim juga membalas dengan bentuk intimidasi dan gerakan kristenisasi kepada orang non-Timtim yang beragama Islam. Tercatat ratusan Kepala Keluarga yang berasal dari Pulau Jawa dipaksa masuk Katolik dibawah ancaman orang Timtim. (Baca: Cribb Robert dan Kahin Audrey. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012, hal 526).

8. Petrus

Selama dua tahun sejak 1983 aksi Petrus (Penembakan Misterius) dijalankan. Aksi ini adalah untuk menghentikan kekerasan dan kejahatan yang meresahkan masyarakat. Sekitar 10.000 orang mati secara misterius di sejumlah kota besar tanpa adanya proses penangkapan dan pengadilan. Operasi ini dipimpin oleh Benny Moerdani yang saat itu juga menjabat Kopkamtib. (Baca: Cribb Robert dan Kahin Audrey. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012, hal 428.).

9. Tragedi Kudatuli

Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang dikenal dengan Tragedi Kudatuli merupakan pengambil alihan secara paksa kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia di Jl. Diponegoro nomer 58 Jakarta Pusat oleh masa pendukung PDI Soerjadi yang dibantu militer dan polisi. Saat itu kantor pusat PDI memang dikuasai oleh masa PDI pendukung Megawati. Peristiwa ini berujung pada kerusuhan yang meluas ke sejumlah tempat di Salemba dan Keramat Jakpus. Peristiwa ini merupakan klimaks dari campur tangan Soeharto yang merekayasa Kongres PDI di Medan yang tidak menginginkan Megawati naik menjadi ketum partai. (Baca: TEMPO Interaktif, edisi 23/01 – 10/Agustus/1996)

10. Petisi 50

Pada Maret dan April 1980, Soeharto membuat sejumlah pidato yang menyatakan bahwa dia adalah perwujudan dari Pancasila, dan juga menjelaskan bahwa pancasila mendapat ancaman dari agama dan ideologi-ideologi lain. Maka dari itu, ia meminta Angkatan Bersenjata membelanya untuk melawan tantangan ini. Sebagai tanggapannya, 50 orang mantan Jenderal, Politisi, akademisi, mahasiswa dan lainnya, termasuh tokoh-tokoh ternama seperti Nasution, Ali Sadikin, dan M. Nasir menandatangani sebuah petisi tertanggal 5 Mei 1980 yang menyatakan kekhawatirannya serta meminta MPR untuk meninjaunya. Soeharto bereaksi keras, orang-orang yang terlibat di dalam petisi tersebut dilarang bepergian dan dijegal bisnis-bisnis yang berkaitan dengan mereka. Bahkan A.M Fatwa, H.M Sanusi, dan H.R Darsono harus mendekam di penjara karena petisi ini. (Baca: Cribb Robert dan Kahin Audrey. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012, hal 427.).

11. Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh

Aceh, sebuah propinsi yang terkenal dengan julukan Serambi Mekah, merupakan salah satu propinsi yang paling merana pada zaman orde baru. Daerah kaya dengan gas ini diperlakukan sebagai daerah operasi militer pada era Soeharto. Sejak 1976, perasaan anti Jawa dan Jakarta sudah muncul di Aceh hingga memunculkan sebuah Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Beberapa pengamat mengatakan, sangatlah wajar dan bisa diterima dengan akal sehat kalau rakyat Aceh memberontak. Karena dari awal kemerdekaan mereka sudah dikhianati dengan pemerintahan Soekarno, dan ditindas pada masa Soeharto. Aceh sejatinya adalah sebuah propinsi yang setia kepada Indonesia. Bahkan pesawat pertama milik Indonesia dibeli dengan uang rakyat Aceh. Namun siapa yang tidak marah saat kesetiaan dibalas dengan penindasan. Gas alam Aceh di Lhokseumawe dieksploitasi besar-besaran, namun penduduk setempat hanya diberi bau nikmatnya saja tanpa merasakan hasilnya. Pada tahun 1989, GAM semakin kuat didukung rakyat setempat. Namun Soeharto menanggapinya dengan brutal. 12000 personil dikerahkan dan membunuh 2000 rakyat sipil termasuk yang tidak terlibat dalam GAM. (Baca: Cribb Robert dan Kahin Audrey. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012, hal 1.).

12. Penculikan dan Penembakan Aktivis

Sudah tak terhitung jumlah aktivis yang hilang pada zaman Soeharto. Budiman Soejatmiko yang sekarang menjadi anggota parlemen pernah merasakan pahitnya hukuman penjara 13 tahun pada era orde baru. Begitu juga dengan aktivis Fadjrul Rahman. Belum lagi aktivis-aktivis yang hilang dan tak pernah kembali macam Widji Thukul. Ditambah lagi dengan enam mahasiswa Trisakti yang tewas tertembak menentang pemerintahannya.

13. Pemaksaan Budaya Jawa

Seperti yang telah disinggung di atas, Soeharto menganggap dirinya adalah seorang raja Jawa di Indonesia. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Gus Dur dan beberapa tokoh lainnya. Menurut Omar Dhani, Mantan KASAU yang pernah dipenjara oleh Soeharto karena dituduh komunis, “Soeharto itu adalah orang yang haus kekuasaan. Bahkan kalau bersalaman, jari-jarinya selalu menukik ke bawah agar orang yang bersalaman dengannya terpaksa sedikit membungkuk di hadapannya.” Hal ini juga yang tidak disukai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ia selalu menghindari salaman dengan Soeharto. Bahkan banyak orang Jawa sendiri yang berpendapat bahwa Soeharto merupakan orang Jawa yang tidak berprilaku Jawa atau wong jowo sing ilang jowone. Ia juga berusaha membuat sosok istrinya, Tien Soeharto sebagai wanita ideal yang harus ditiru oleh wanita Indonesia. Pada saat Indonesia menduduki Timtim, banyak wanita Timtim yang dipaksa memakai baju Jawa layaknya Bu Tien. Maka tak heran kalau sekarang masih banyak dijumpai wanita-wanita tua di Timtim yang kainan batik layaknya wanita Jawa.

14. Pembelokkan Sejarah dengan Propaganda Film

Bukan rahasia lagi bahwa sejarah adalah milik para penguasa. Ketika penguasa itu mati, para sejarawan baru berlomba-lomba berusaha meluruskan sejarah. Ini yang terjadi dengan sejarah PKI yang dirancang sedemikian rupa oleh orde baru. Ditambah lagi dengan propaganda film yang terkenal “Pengkhianatan G 30S/PKI semakin menancapkan dogma dalam pikiran banyak orang bahwa Soeharto adalah pahlawan yang menumpas PKI yang keji. Tidak sedikit film-film yang dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaannya termasuk Janur Kuning dan Serangan Fajar yang menggambarkan jasa Soeharto dalam perjuangan melawan Belanda.

15. Pengontrolan Media dan Dibungkamnya Kebebasan Berpendapat

Hanya ada dua pilihan pada masa orde baru untuk media massa, langgeng atau mati. Kalau mau langgeng maka surat kabar tidak berisi kritik atau keburukan pemerintah, kalau melawan akan bernasib seperti Tempo, Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi, dan Pos Sore. Lamanya masa ditutupnya surat-surat kabar tersebut pun beragam.

16. Pengrusakan Alam

Masih ingat nama Bob Hasan, mantan konglomerat yang akhirnya menghuni hotel prodeo pada masa orde baru lengser. Ia adalah tokoh utama bisnis kayu di Indonesia. Bahkan ia adalah aktor tunggal yang mengatur harga kayu di Indonesia untuk diekspor ke luar negeri. Ia seakan menikmati impunitas pada masa orde baru. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dirinya juga bersama Lim Swie Liong merupakan ATM berjalan keluarga Cendana. Itu adalah harga yang harus dibayar untuk menggenggam hak atas pengolahan bisnis macam kayu jati di era Soeharto. Entah berapa ratus hektar pengundulan hutan di Kalimantan, Jawa, dan Sumatra hanya untuk pemenuhan hasrat dan libido bisnis kayu jati. Begitu juga ketika Soeharto mencanangkan program ekspor kelapa sawit skala besar yang membuat Indonesia menjadi pengekspor yang terbesar di dunia bersama Malaysia, pembalakan hutan besar-besaran pun terjadi. Ribuan hektar hutan berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit. Ini tidak hanya merusak ekosistem hutan, namun juga mengakibatkan pindahnya orang-orang suku Dayak pedalaman ke daerah lain. (Baca: Cribb Robert dan Kahin Audrey. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012, hal 160.).

17. Tekanan Terhadap Islam

Soeharto memang beragama Islam, namun kebijakan-kebijakan yang dibuat sama sekali tidak berpihak kepada pihak muslim. Mulai dari pemaksaan pancasila sebagai asas tunggal (astung) pada awal 80an kepada organisasi-organisasi Islam, dan juga pelarangan penerapan syariat Islam. Bahkan segala sesuatu yang berbau Islam begitu dijauhkan dari masyarakat, padahal ia adalah seorang pemimpin Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Bahkan beberapa kali ia membunuh anggota perkumpulan umat Islam yang tidak terbukti bersalah seperti peristiwa Tanjung Priuk dan Talangsari.

18. Pancasila menjadi Propaganda

Dia mengaku sebagai perwujudan dari Pancasila, dan juga menjelaskan bahwa pancasila mendapat ancaman dari agama dan ideologi-ideologi lain. Maka dari itu, ia meminta Angkatan Bersenjata membelanya untuk melawan tantangan ini. Barang siapa yang mengkritik dirinya, sama juga dengan mengkritik pancasila. (Baca: Cribb Robert dan Kahin Audrey. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012, hal 343.).

19. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme pada masa Soeharto merupakan suatu hal yang wajar. Indonesia tercatat sebagai Negara terkorup di kawasan Asia-Pasifik. Diperkirakan kekayaan Soeharto mencapai 40 milyar dolar Amerika Serikat berbentuk uang dan saham di berbagai bank, yayasan, dan perusahaan baik di dalam maupun di luar negeri (Sumber: Tempo, Jumat, 4 Mei 2004). Anak-anaknya menjadi konglomerat Indonesia, sebut saja Tutut, Bambang dan Tommy. Keluarga Soeharto memang menguasai bisnis skala besar di Negara ini pada saat masa jayanya. Soeharto juga menjadi presiden terkorup bersama Husni Mubarak (Mesir), Zainel Abidin (Tunisia), Ferdinand Marcos (Filipina), dan Silvio Berlusconi (Italia).

20. Gelar Negara Penghutang Terbesar di Dunia

Soeharto digelari dengan Bapak Pembangunan Nasional. Begitu banyak pembangunan yang terpusat di Jawa dibuat pada eranya. Namun, dana tersebut berasal dari hutang kepada Bank Dunia yang dikenal sebagai lintah darat. Indonesia menjadi Negara penghutang terbesar di dunia pada Bank Dunia dengan jumlah hutang sebesar Rp. 1.500 Triliyun yang setiap tahun bertambah Rp. 48 Triliyun. Soeharto tidak hanya meninggalkan rentetan kekejaman yang keji saat ia lengser, namun para penerusnya juga terpaksa menanggung hutang luar negeri dalam jumlah raksasa yang sampai detik ini belum bisa dilunasi dan terus menggadaikan kekayaan alam negara kepada pihak asing.

Masih berpikir untuk kembali lagi pada Orde Baru Jilid II?

Febri Priyoyudanto

Gombak, Selangor, 6 November 2012

5 pemikiran pada “Desoehartoisme

  1. Jangan harap soeharto akan jadi pahlawan nasional , memang era soeharto stabil tapi apa adil jika nyawa mati sia-sia , konflik mesir pada ramai mengutuk tp di negeri sendiri pembunuh berdarah dingin dielukan menjadi pahlawan , TOLAK SOEHARTO JADI PAHLAWAN NASIONAL !!

  2. Bagi orang yg hanya tahu luarnya saja yg sangat mengagungkan harto…
    Saya memang baru lahir tahun 70 tapi orang di sekeliling saya sudah bicara bagaimana harto sejak saya masih kecil..
    Ditambahlagi saya belajar kritis memahami permasalahan yg membuat saya berkesimpulan… haram sampai kapanpun suharto jadi pahlawan… malah ia layak disebut penghianat negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s