Historia, Quo Vadis?

rawagede6_1_0

 

Seorang Kawan saya pernah menceritakan sebuah kisah yang menarik tentang kehidupannya yang ia bangun di negeri Kincir Angin Belanda bersama suaminya tercinta yang berkebangsaan Belanda. Walaupun ia tetap menjadi WNI, namun anaknya Ijan yang berumur dua belas tahun menjadi warga negara Belanda. Ketika kami bertemu di sebuah restoran di Yogyakarta saat itu, kawan saya menceritakan tentang sekolah anaknya. Ternyata si Ijan yang berambut kemerahan berwajah londo mengikuti bentuk wajah ayahnya, ia sangat menggemari pelajaran sejarah di sekolahnya. Ia dengan lancar mampu menceritakan kepada Ibunya sejarah kerajaan Belanda, sejarah Belanda saat menduduki Amerika sebelum revolusi Amerika terjadi, ketika Belanda diserbu oleh pasukan Napoleon Bonaparte, juga ketika diduduki oleh tentara Nazi. Namun satu hal yang membuat kawan saya bingung, ketika Ijan bercerita tentang Belanda yang pernah “menguasai” Indonesia. Kenapa harus dengan kata “menguasai”, tidak dengan kata “menjajah”. Karena kata menguasai berbeda makna dengan kata menjajah menurut KBBI. Apakah ini hanya sekadar eufimisme, atau memang sebuah fenomena sejarah kelam yang sengaja dipendam? Beruntung kawan saya serta suaminya merupakan orang tua yang berpikiran terbuka (open minded) hingga ia mampu menceritakan sejarah yang sebenarnya kepada si Ijan.

Cerita di atas menyangkut kawan saya dengan anaknya bukan merupakan sebuah cerita yang aneh sebenarnya di tengah jaman yang terus bergerak secara dinamis ini. Sebenarnya cerita tersebut sudah lama juga saya ketahui dari seorang teman yang pernah kuliah di sana selama beberapa tahun, ia juga menceritakan hal yang sama. Mengapa negara model Belanda yang begitu mengagung-agungkan kebebasan berekspresi dan berpendapat, serta humanis seperti negara barat pada umumnya sengaja memendam realita sejarah yang sebenarnya terjadi kepada generasi mudanya. Apakah ada perasaan tidak enak hati, malu mengakui kebejatan kerajaan Belanda masa silam, atau sebagai bentuk proteksi moral kepada warganya? Saya lebih condong yang kedua.

Yang jelas, sejak rakyat Indonesia mengangkat kembali kasus pembantaian Rawagede dan pembantaian di Makassar oleh Westerling ke pengadilan Belanda, semakin banyak generasi muda Belanda yang ingin mengetahui lebih jauh apa yang telah bangsa mereka lakukan pada masa “menguasai” Indonesia dulu. Beberapa institusi penelitian di Belanda seperti Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), Dutch Institute for Military History (NIMH) dan Institute for War, Holocaust and Genocide Studies (NIOD) mengajukan proposal untuk melakukan penyelidikan ulang episode ini. Mereka sangat mempunyai kepentingan untuk merekonstruksi ulang sejarah bangsanya yang yang selama ini dipendam oleh pihak Kerajaan Belanda.

Namun ternyata tidak hanya Belanda saja yang melakukan pemendaman realita sejarah bangsanya terhadap generasi mudanya. Seperti diketahui, Perancis pun melakukan hal serupa seperti Belanda untuk menutup aib masa lalunya yang keji ketika menduduki Aljazair dan Marokko pada tahun 1912 hingga 1956.

Apa yang dilakukan Spanyol dan Portugal lebih menyakitkan lagi, mereka sengaja memutar balikkan fakta sejarah kepada generasi mudanya bahwa pada masa abad ke 8 hingga abad ke 15 bangsa Arab pernah menjajah semenanjung Iberia dan mengubah nama negeri tersebut menjadi negeri Andalusia. Hanya sedikit generasi muda Spanyol dan Portugal yang sadar bahwa negara mereka dulu pernah menjadi pusat pancaran sinar ilmu pengetahuan di Barat ketika pemerintahan Islam berkuasa di sana. Membuat pernyataan bahwa Islam Arab pernah menjajah semenanjung Iberia pada masa lalu merupakan pernyataan yang sangat keliru dan mengandung unsur fitnah yang keji, karena sejarah mencatat bahwa Islam membebaskan penduduk semenanjung Iberia dari penguasa kerajaan Visigoth yang lalim, yang membuat penduduknya pada masa itu hidup dalam kesengsaraan. Bahkan menurut Philip K. Hitty dalam bukunya History of Arabs, penduduk Spanyol kala itu sengaja mengundang tentara Islam saat itu untuk menghancurkan kerajaan Visigoth.

Sejarah memang tidak pernah menipu, namun buku-buku sejarah melalui tangan penguasalah yang banyak menipu rakyatnya. Semoga pemerintah Indonesia tidak pernah memendam realita sejarah yang kelam ketika Indonesia menjajah Timor-Timur dan melakukan banyak pembantaian di sana pada masa orde baru berkuasa.

 

Febri Priyoyudanto

Selangor, Gombak. 5 Januari 2013.

 

 

Satu pemikiran pada “Historia, Quo Vadis?

  1. orang2 eropa berusaha memendam sejarah infasi kolonialisme kepada generasi muda mereka,karena mereka sadar invasi adalah sesuatu yg buruk,dan tidak layak di banggakan..
    berbeda dg kita..yg bangga karena majapahit pernah mnguasai asia tenggara..bangga ketika kesultanan islam menguasai asia afrika dn eropa dg pedangx..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s