Labilral

no

Akhir-akhir ini aku sering bosan menonton siaran televisi. Program acaranya benar-benar tidak karuan. Bukan aku merasa pandai, tapi sebagian kuli di media elektronik itu seperti kurang cerdas. Malah, kalau lebih gamblang lagi, mereka bodoh-bodoh. Coba bayangkan, program acaranya saja kebanyakan membodohkan. Berarti, yang buat pasti bodoh. Kalau mereka cerdas, pasti acaranya mencerdaskan.
Waktu itu pagi-pagi, aku menyalakan televisi untuk menonton siaran berita. Tapi, sebelum ulasan berita dimulai, program acaranya tentang liputan selebriti. Aku terpancing menonton, karena ada seorang artis cantik yang diwawancarai seputar kehidupan pribadinya. Kebetulan artis cantik itu idola adikku. Posternya banyak terpampang di kamarnya. Karena sering melihat posternya, aku jadi suka juga. Mata bulatnya memang indah. Ditambah lagi pipinya berlesung dan wajahnya sangat asiatik. Karena itu, aku menonton liputannya. Tapi, semua hal tentang dirinya jadi membuatku mau muntah. Terang-terangan artis cantik itu mengaku kalau hobinya pakai sex toys. Katanya itu lebih baik daripada berzina. Kata-katanya memaksa otakku yang daya nalarnya sedikit rendah untuk berpikir dua hal dalam satu waktu, berfantasi dan mengkritisi. Tapi dua-duanya tidak ku lakukan. Aku lebih baik mengganti saluran. Aku takut jadi bodoh. Karena yang bertanya dan ditanya dua-duanya bodoh. Aku tak mau jadi pihak ketiga yang tertular bodoh.
Sejak saat itu, aku menyuruh adikku untuk mencopot semua posternya. Sejak saat itu juga, aku lebih banyak tidak percaya dengan selebriti. Malah, mereka telah berani menjajah bahasa dengan menyebut diri mereka sebagai public figure. Kok bisa ya. Kalau begitu, artis porno jepang juga public figure. Malah lebih hebat. Mereka tak cuma mengaku, tapi terang-terangan pakai sex toys di depan layar televisi. Namun hebatnya juga, mereka tidak mengaku-ngaku jadi public figure.
Menurutku, bidadarinya acara televisi cuma siaran berita. Yang ini, aku sealiran dengan ayahku. Sejak aku kecil, ia selalu mengajakku nonton siaran Dunia dalam Berita di TVRI yang tayang tiap jam Sembilan malam. Acara ini tidak boleh dillewatkan. Kalau lewat, ia menyesal dan jadi susah tidur. Tapi, sekarang siaran itu sudah kalah pamor dengan siaran berita di televisi swasta. Menurutku, siaran berita lebih seru dari film telenovela, bahkan film laga. Siaran berita tidak hanya memberikan informasi, tapi juga terkadang mampu mempermainkan emosi. Aku pernah menonton siaran berita tentang sekelompok aktivis yang mendukung perkawinan sesama jenis terjadi di Indonesia. Emosiku benar-benar dipermainkan dengan siaran berita itu. Melalui siaran itu juga, aku jadi benci dengan kelompok aktivis itu. Coba pikir, kenekatan mereka mendukung perkawinan sesama jenis itu benar-benar ngawur. Almarhum Kakekku, kalau sekarang masih hidup pasti marahnya akan lebih dahsyat kalau tahu berita ini. Karena selama dia beternak ayam, belum pernah ada sejarahnya ayam jantan kawin dengan ayam jantan. Tapi, manusia jantan kawin dengan pejantan, mereka main pedang-pedangan. Manusia betina kawin dengan betina, mereka main gembok-gembokan. Edan!

Dari berita itu, aku mencari tahu banyak tentang kelompok aktivis itu. Ternyata, namanya Jaringan Islam Liberal disingkat JIL. Ada orang yang saking bencinya memplesetkannya jadi Jaringan Iblis Liberal. Tapi, aku lebih suka dengan sebutanku sendiri, Jaringan Itik Lebay.
Hari demi hari, aku semakin benci. Waktu demi waktu, aku semakin memusuhi. Bahkan, setiap kali ada berita yang menyoroti tentang kelompok jaringan itu, dalam hati aku selalu berkata, “Bedebah!” Apa lagi, saat kelompok itu menyudutkan salah satu ormas Islam yang selama ini berjuang melawan kemaksiatan, aku tidak berkata bangsat lagi, tapi, “Keparat!” Bukan mentang-mentang pimpinan ormas itu adalah guruku waktu sekolah dulu. Tapi, aku memang mendukung tindak-tanduk mereka di tengah hukum yang mandul dan aparat yang impoten.
Asal kalian tahu, aku bukan Muslim abangan, apa lagi fundamental. Aku seorang Muslim yang Islam. Kalau di rumah, aku selalu sarungan. Koleksi kitab kuningku melebihi lemari bukuku. Aku juga selalu mengenakan peci putih biarpun pergi ke kampus. Aku tidak malu disebut katro dan ketinggalan jaman. Biarkan dunia tahu kalau aku Muslim fanatik dari simbol peci putih yang ku pakai. Bahkan, kalau hari Jumat, aku selalu pakai sorban. Biar lebih mirip ustad.
Sebagai kepala divisi dakwah Islam di Badan Kemahasiswaan, tugasku bukan hanya mengurusi pengajian mahasiswa yang ecek-ecek. Bahkan, aku sudah bertekad dengan mengucapkan ikrar mantap ketika pelantikan, bahwa aku akan melindungi segenap jiwa raga mahasiswa kampus ini dari hal-hal yang merusak akidah. Maklum, kampusku bernafaskan Islam.
Awalnya semua berjalan aman. Tapi, ketika virus liberal sudah menyerang dunia kampus, aku langsung angkat senjata. Walaupun pada akhirnya kebobolan juga. Cukup banyak mahasiswa yang dengan bangga mengaku aktivis Islam liberal. Aku tidak mau gegabah. Semua upaya ku lakukan dengan cara persuasif. Tapi tidak mempan juga. Terpaksa aku tantang pentolan mereka debat terbuka. Sayangnya menolak. Aku tidak patah arang. Aku minta bertemu, ternyata seorang wanita.
Sejatinya aku tidak terkejut amat mengetahui pentolannya seorang wanita. Sejak zaman nabi-nabi sudah ada raja wanita. Tapi, yang sangat membuatku terkejut adalah wanita itu berhijab panjang layaknya Muslimah sejati. Jilbabnya menjulur hingga bagian perut. Gamisnya longgar. Aku sama sekali tidak melihat lekukan tubuh yang timbul dari luar gamis itu. Jujur, aku sama sekali belum yakin kalau wanita seperti dirinya adalah dedengkot Islam liberal kampus ini. Tapi, ketika ia menyebut namanya, Bening, aku jadi yakin. Nama itu memang sudah tersohor di antara kalangan aktivis kampus.
Pertama kali bertemu, sebenarnya aku geram pangkat enam. Tapi, aku juga takjub. Ternyata dia sangat cantik. Wajahnya juga bening, sesuai namanya. Tak hanya itu, senyuman pertamanya seakan membuat perlawananku runtuh. Tapi, eits, aku masih bisa berkelit. Cepat-cepat ku pasangi pagar pembatas. Aku tidak akan tertarik dengan wanita yang liberal. Walaupun jilbabnya panjang, dan cantiknya melebihi bidadari yang habis mandi dengan siraman cahaya pelangi. Bagiku, wanita liberal adalah haram. Sama haramnya dengan wanita penyembah berhala.
Aku mengajaknya berdiskusi di kantin kampus, dia setuju. Di tengah keramaian kantin, kami berdebat. Mulai dari pandangannya yang menentang pemberlakuan regulasi wajib jilbab di kampus bagi mahasiswi. Alasannya sederhana, “Itu adalah pemaksaan. Karena berjilbab tidak bisa dipaksakan.” Argumennya membuatku semakin bingung. Pendapatnya kontradiktif dengan pakaian yang dikenakan. Aku bertanya balik, kenapa dia berhijab, jawabnya lagi sederhana, “Ini panggilan hati.” Tiap kali dia menjawab, aku jadi buncah. Bukan karena jawabannya saja. Tapi, juga caranya bicara. Guratan-guratan di wajahnya bersinergi dengan kata-kata yang diucapkan, hingga menciptakan sebuah keindahan tak ternilai. Aku coba tanya terus, biar dia terus bicara. Pagar pembatasku seakan mau roboh. Tapi, cepat-cepat aku pasang penopang.
Diskusi berjalan singkat sekali. Ia dapat panggilan telpon dan harus menghadap pembimbing akademik. Dalam hatiku berteriak, “Jangan! Jangan! Nanti aja!” Tapi, ia tetap pergi. Aku minta diskusi lanjutan. Dia mengiyakan. Besok, di tempat dan jam yang sama. Dia menjanjikan waktu yang lebih panjang. Sekonyong-konyong hatiku kegirangan.
Esoknya kita bertemu lagi. Kali ini ia benar-benar tambah mempesona. Hijab warna biru laut berpadu dengan gamisnya yang berwarna sama. Aku memujinya, tapi dalam hati. Kali ini, aku menawarkannya memesan minuman. Ia menolak, katanya puasa senin-kamis. Aku jadi malu. Aku sudah terlanjur memesan minuman bersoda. Dia menyuruhku bersikap biasa saja tanpa canggung minum di depannya. Malah, ia menuangkan soda itu ke gelasku. Lalu ia terdiam lama sambil matanya yang indah mengamati busa soda putih yang mengambang dalam gelas. Katanya, ia suka dengan bentuk busa soda. Aku tertawa sendiri. Dia pun juga ikut tersenyum merekah. Senyumannya benar-benar membuat dunia seakan berhenti selama beberapa detik, ranum sekali.
“Ayo kita mulai diskusinya. Apa yang mau ditanyain lagi?” Pertanyaannya membuatku mendadak sadar. Beruntung, aku tidak benar-benar mabuk.
Aku belum sempat memberondongnya dengan pertanyaan. Tiba-tiba seorang mahasiswa mendatanginya dengan muka sinis.
Ukhti Bening, kan? Yang liberal itu.” Katanya. Jari telunjuknya sambil menunjuk ke arah Bening.
“Iya.” Jawabnya halus sekali.
“Saya mengagumi tulisan ukhti. Tapi kebencian saya melebihi kekaguman saya sama ukhti.” Bening hanya terdiam. Tapi, masih mencoba tersenyum. Aku lihat matanya tetap bening. Sama sekali tidak nanar. “Saya jijik sama ukhti. Mendingan ukhti buka aja jilbabnya. Biar nggak mengotori Islam.”
“Maaf akhi, Kalau saya boleh tahu, dimana letak salah saya?”
“Ya, karena ukhti orang liberal!” Jawabnya keras sambil menunjuk jari telunjuknya ke wajah Bening. Setelah itu, ia melesat pergi tanpa berkata sepatah katapun lagi.
Aku lihat wajah Bening, ia tetap tenang. Setenang suasana desa di malam hari.
“Nggak apa-apa, Akhi. Saya sudah biasa diperlakukan begitu. Tapi, kalau disuruh buka jilbab, dia sama aja suruh saya telanjang.” Katanya kepadaku. Sekarang nadanya lirih. Aku pandangi wajahnya yang sedikit terakuk. Pesonanya masih tetap saja sama.
“Ok, mau dilanjutkan diskusinya?” Tanyanya.
“Lebih baik kita ganti hari lain.” Jawabku. Ia hanya mengangguk-angguk. Aku tahu, kejadian tadi sedikit banyak sudah menghilangkan mood-nya.
Ia mencari sesuatu di dalam tasnya. Lalu mengeluarkan sekumpulan artikel dan memberikannya padaku.
“Terima kasih, akhi Sudjana. Salamualaikum.” Ucapnya. Aku juga bilang terima kasih. Ku jawab salamnya. Setelah itu ia pergi.
Di rumah, aku baca baik-baik artikelnya. Jumlahnya tujuh. Empat artikel tentang Islam, dan sisanya tentang politik. Wajar saja dia menulis tentang politik, karena dia mahasiswi jurusan ilmu politik. Aku telusuri satu persatu, ku selami, ku dalami, dan ku mengerti. Dari empat artikel yang ditulisnya tentang Islam, tidak ada penyimpangan. Analisisnya logis. Referensinya mantap. Tulisan ulama-ulama terkenal dijadikan acuannya. Bahkan dalam satu artikelnya, Islamization of Knowledge, ia dengan gagah berani melawan tulisan Fazlur Rahman, gembong liberal yang sudah almarhum asal Chicago. Tidak hanya itu, dengan kritis ia juga menelanjangi fiqih lintas agamanya Cak Nur, serta kritikan tajamnya terhadap metode hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an. Tidak ada satupun tulisannya yang mengatakan Al-Quran sudah ketinggalan jaman, hukum syariat sudah basi, atau semua agama sama saja. Lalu dimana letak keliberalannya. Malah menurutku, keliberalannya nol besar.
Aku benar-benar dibuat bingung. Bingung pada tulisannya, bingung pada sosoknya, dan juga bingung pada wajahnya. Mengapa wajahnya yang terus terlintas. Wajahnya yang menyunggingkan senyuman sempurna ketika melihat busa soda di dalam gelas. Merekah, mencekah, dan membelah. Tiap aku mau tidur, ada wajahnya di langit-langit kamar. Ketika aku makan, wajahnya menghiasi piring. Saat aku buka laptop, wajahnya sudah menggantikan gambar desktop yang sebelumnya bernuansa pegunungan. Kecuali kalau mau buang hajat, aku tetap konsentrasi.
Tulisan-tulisannya benar-benar meyakinkanku bahwa bajunya memang liberal. Tapi pemikirannya tetap autentik. Lalu, mengapa dengan bangganya ia mengaku Islam liberal. Menurutku, seorang mahasiswa yang pernah mendampratnya di kantin tidak salah. Satu-satunya kesalahannya adalah dirinya mengaku seorang Islam liberal. Walau tulisan-tulisannya jauh dari pemahaman liberal.
Kalau begini jadinya, sosoknya tidak haram. Ia tidak sama dengan wanita penyembah berhala, atau penyembah api. Apa aku harus menghalalkan diriku untuk kesengsem pada dirinya. Ia layak, amat layak. Tapi nanti dulu, aku bukan tipe pria yang mudah jatuh hati tanpa menelusuri wanita lebih jauh.
Aku pergi ke kampus seperti biasa. Namun, situasinya yang tidak biasa. Banyak polisi bawa tameng dan pentungan. Ratusan mahasiswa berdemo di depan auditorium. Satpam kampus sudah kewalahan. Pantas saja pihak kampus panggil polisi. Aku amati isi spanduk mereka.
Usir Lesbian dari Kampus Ini!
Gay dan Lesbianisme Haram!
Tolak Pemikiran Feminis dan Liberalisme!
Homoseks dan Lesbi Tidak Enak. Tidak Bisa Buat Anak. Jadi Wajib Ditolak!
Menurutku, spanduk yang terakhir itu sangat mengagumkan. Tapi, ada satu spanduk yang membuat mataku terbelalak.
Dropout Bening Gembong Liberal!
Setelah aku tanya-tanya pada beberapa pendemo, ternyata Bening mengundang seorang pegiat feminisme dan lesbianisme berdiskusi di kampus. Tiba-tiba saja darahku mendidih. Emosiku bergolak. Aku kecolongan. Seharusnya aku sebagai ketua divisi dakwah Islam kampus wajib tahu. Aku berhak marah. Dia sudah mengangkangi wewenangku. Keberadaanku sebagai penanggung jawab aktifitas keislaman kampus tidak dianggap. Aku tidak hanya tersinggung, tapi benar-benar marah.
Tidak ada lagi terbayang wajahnya yang menyunggingkan senyuman. Tidak ada lagi bayangan senyuman indahnya yang merekah ketika melihat busa soda yang mengembang dalam gelas. Semua bayang-bayangnya sudah ku bakar, ku bakar bersama artikel-artikelnya di depan auditorium. Aku dikecewakan dengan tindakannya.
Diskusi itu tidak terjadi. Pegiat itu juga tidak jadi datang. Mungkin takut dihabisi. Para pendemo sudah bubar. Perkuliahan hari ini terpaksa berhenti. Hanya tersisa sampah-sampah bekas poster yang terserak di depan auditorium. Artikel-artikel Bening yang ku bakar, telah jadi abu. Bayang-bayang wajahnya sudah menyatu dengan angin. Melayang-layang entah kemana. Aku tak mau tahu lagi. Sosoknya sekarang berubah jadi haram lagi. Sama seperti penyembah berhala, sama seperti penyembah sapi, sama seperti penyembah gondoruwo.
Penentangan feminisme dan lesbianisme, dan liberalisme belum berhenti. Ada agenda demonstrasi lanjutan besok di bundaran HI. Aku yang akan memimpin orasinya. Spanduk-spanduk dengan ukuran yang lebih besar sudah siap. Hanya tinggal menyiapkan suara yang menggema untuk berteriak-teriak membakar semangat para demonstran.
Cuaca panas menyengat. Matahari Jakarta tidak ada kompromi. Sinarnya seperti menembus tulang. Tapi, aku tetap semangat berorasi memimpin para demonstran. Para demonstran tidak ciut nyali, walau sudah dikelilingi banyak polisi. Terjadi sedikit kemacetan di jalan raya. Mungkin orang-orang di dalam mobil itu ada yang mendukung, ada yang masa bodoh, atau lebih banyak yang mencemooh. Mereka pikir kami mahasiswa sok idealis, kurang kerjaan, dan hanya buang waktu kuliah untuk urusan yang remeh-temeh. Biarkan mereka bicara, itu artinya diperhatikan. Maknanya kami berhasil mengangkat sebuah isu yang luput dari perhatian orang-orang sibuk yang individualis.
Dari kejauhan, nampak sebuah keanehan. Aku hampir hilang konsentrasi berorasi. Untuk lebih jelasnya, aku minta diganti. Aku serahkan pengeras suara kepada seorang rekan yang lain. Aku mau mendekati keanehan itu.
Di antara para mahasiswi yang berdemonstrasi, yang keseluruhannya berhijab panjang, aku berdiri paling belakang. Tiba-tiba aku langsung terguncang. Ternyata pandangan mataku tidak salah tangkap. Sosok Bening sang gembong liberal, yang baru kemarin dicaci karena tindakannya mengundang pegiat lesbianisme, yang senyumnya merekah ketika melihat busa soda dalam gelas, kini menjadi pemimpin demonstrasi untuk para akhwat. Dengan semangat yang menggelegar, tak peduli panas yang menyengat, ia berorasi dengan berapi-api menentang feminisme, lesbianisme, dan liberalisme. Aku bingung kuadrat. Akal sehatku seakan mati rasa.
Aksi demonstrasi berakhir menjelang petang. Di sela-sela kerumunan para demonstran yang berjalan pulang, ia mengucapkan salam dengan suaranya yang sangat halus. “Assalamualaikum, akhi Sudjana.”
Aku jawab, “Wa’alaikumsalam, ukhti Bening.” Dengkulku tiba-tiba jadi gemetar. Aku juga mengernyitkan dahi. Kebingungan masih membanjiri pikiranku. Menurutku, sosoknya lebih misterius dari James Bond 007, atau wanita dalam film My Sassy Girl.
Aku jadi berujar sendiri dalam hati, “Siapa dirimu, Bening? Buka semua topeng yang membarikade dirimu, dan yang menghijabi sosokmu. Karena aku cuma mau tahu. Supaya aku tidak mati dalam rasa penasaran. Apakah kau hanyalah sampan yang terombang-ambing di tengah lautan? Atau kau adalah setangkai obor yang siap membakar tumpukan jerami yang tertutup salju di musim dingin? Atau, apakah kau benar-benar salah satu dari kumpulan itik lebay? Tapi, satu yang pasti dan tak akan pernah berubah lagi, dirimu sudah Halal lagi.”

(Inspired by you, A Girl who said “I’am a liberal in responsibility”)
Garang Adib Dipantara
Gombak, December 16, 2013. 01.07 P.M.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s